Daerah

Koperasi Produsen Salawe Jajar Bumipasundan Hadiri Diskusi Gastronomi, Dukung Pelestarian Kuliner Tradisional Cirebon

41
×

Koperasi Produsen Salawe Jajar Bumipasundan Hadiri Diskusi Gastronomi, Dukung Pelestarian Kuliner Tradisional Cirebon

Sebarkan artikel ini

CIREBON, sidikkriminal.co.id – Ketua Umum Koperasi Produsen Salawe Jajar Bumipasundan, Andi Bagas Saputra, bersama Ketua Dewan Pembina Toni Setiawan dan jajaran anggotanya.

Dalam sambutannya, Toni Setiawan menyoroti besarnya potensi pariwisata Cirebon yang didukung oleh kekayaan kulinernya.

Menurutnya, hampir setiap destinasi wisata memiliki keterkaitan erat dengan makanan atau kuliner khas yang menjadi daya tarik tersendiri bagi

Selain itu, Toni Setiawan juga menekankan pentingnya kejujuran dan integritas dalam menjalankan tugas kedinasan, khususnya bagi pihak yang menangani urusan kebudayaan dan pariwisata. Menurutnya, integritas menjadi landasan penting dalam menjaga kepercayaan publik serta memastikan pengembangan potensi daerah berjalan sesuai tujuan.

menghadiri kegiatan Diskusi Gastronomi (Digas) Vol. 2 yang diselenggarakan Sedulur Koki Cirebon (Sekoci) di Aula Kaca Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Mengangkat Kuliner Lokal Cirebon yang Hampir Punah” tersebut menjadi ruang edukasi, promosi, sekaligus apresiasi terhadap kekayaan gastronomi daerah.

Tidak hanya memperkenalkan cita rasa kuliner tradisional, kegiatan ini juga mengangkat sejarah dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap sajian khas Cirebon.

Kehadiran Ketua Umum Koperasi Produsen Salawe Jajar Bumipasundan beserta jajaran anggotanya merupakan bentuk perhatian dan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya serta pengembangan potensi kuliner lokal sebagai bagian dari kekayaan daerah.

Ketua Umum Sekoci, Chef Rieza, mengatakan bahwa Digas Vol. 2 merupakan kelanjutan kegiatan sebelumnya yang telah dilaksanakan di Kabupaten Cirebon. Pada pelaksanaan kali ini, kegiatan dikemas lebih beragam dengan melibatkan praktisi kuliner, pelaku seni, masyarakat, serta generasi muda.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengangkat potensi kuliner, budaya, dan seni Cirebon sekaligus mendorong generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai kekayaan daerahnya sendiri,” ungkap Chef Rieza.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian pengunjung adalah lomba kreasi Mie Koclok yang diikuti oleh 10 grup peserta.

Kompetisi tersebut menjadi wadah bagi peserta untuk mengembangkan kreativitas dalam mengolah kuliner khas Cirebon tanpa menghilangkan karakter dan cita rasa tradisionalnya.

Selain itu, pengunjung juga disuguhkan demonstrasi memasak bubur cecek serta pengenalan wedang asam kawak, salah satu minuman tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner khas Cirebon.

Tidak hanya berfokus pada pelestarian makanan tradisional, kegiatan ini juga menghadirkan edukasi keamanan pangan, termasuk penerapan standar Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), higienitas, dan sanitasi.

Hal tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran para pelaku kuliner terhadap pentingnya keamanan makanan yang disajikan kepada masyarakat.

Menariknya, Digas Vol. 2 juga memberikan ruang apresiasi dan partisipasi bagi penyandang disabilitas melalui penampilan SLBN Budi Utama, PSBD Kelabang, MYM Dancer Studio, Sanggar Galih Pawentar, dan Intan Dewi Dancer.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut.

Menurutnya, pengembangan gastronomi sejalan dengan upaya menjadikan Kota Cirebon sebagai kota kreatif berbasis gastronomi.

Ia menjelaskan bahwa gastronomi bukan sekadar berbicara mengenai makanan dan minuman, melainkan juga mencakup sejarah, proses penyebaran, serta nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Melalui kegiatan Diskusi Gastronomi Vol. 2 ini, diharapkan kuliner tradisional Cirebon yang mulai jarang dikenal masyarakat dapat kembali diperkenalkan kepada generasi muda dan menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor pariwisata daerah.

Kehadiran berbagai elemen masyarakat, komunitas kuliner, pelaku seni, hingga organisasi dan koperasi diharapkan semakin memperkuat kolaborasi dalam menjaga warisan budaya lokal.

Kuliner tradisional bukan sekadar makanan, melainkan warisan sejarah, identitas, dan kebanggaan masyarakat Cirebon yang harus terus dilestarikan.

Rilis G.Yudi

error: Content is protected !!