ACEH UTARA, sidikkriminal.co.id – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, penderitaan warga korban banjir di Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, termasuk wilayah Keude Krueng Geukueh, semakin memprihatinkan.
Hingga Jumat (22/5/2026), bantuan yang dijanjikan kepada masyarakat terdampak banjir disebut belum juga terealisasi secara jelas.
Kondisi tersebut memicu kekecewaan dan kemarahan masyarakat yang merasa pemerintah belum hadir secara maksimal di tengah situasi sulit yang mereka alami.
Warga mengaku sudah berbulan-bulan bertahan dalam kondisi serba kekurangan tanpa adanya kepastian bantuan.
“Sudah berbulan-bulan kami menunggu. Jelang Lebaran, bantuan belum juga jelas. Rakyat menjerit, tapi pemerintah seolah-olah tutup mata dan tutup telinga. Jangan jadikan kami pengemis di negeri sendiri,” ujar salah seorang warga dengan nada geram.
Kekecewaan masyarakat juga mendapat sorotan dari kalangan awak media. Salah satu awak media Sidikkriminal.co.id menilai lambannya penanganan dan penyaluran bantuan bukan lagi sekadar persoalan teknis, melainkan bentuk kelalaian serius dari pihak terkait.
Menurutnya, alasan kekurangan personel tidak dapat dijadikan pembenaran atas lambatnya penanganan korban banjir. Ia menilai pemerintah seharusnya mampu bergerak cepat dalam situasi darurat yang menyangkut kebutuhan masyarakat.
“Kalau alasan klasiknya kekurangan personel, itu tak masuk akal dan tidak bisa diterima. Saat momentum pemilu, semua terdata dengan baik. Jangan bungkus kelemahan dengan alasan. Negara harus hadir, bukan bersembunyi di balik keterbatasan,” tegasnya.
Ia juga menyindir wacana pengerahan ribuan warga dari ratusan desa untuk membantu penanganan banjir, yang menurutnya merupakan tanggung jawab pemerintah dan instansi terkait.
“Kalau memang pemerintah tidak sanggup, katakan saja. Apakah pimpinan Kabupaten Aceh Utara ini masih punya tanggung jawab atau tidak,” ujarnya.
Masyarakat Dewantara mendesak pemerintah daerah maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar segera mengambil langkah nyata dan tidak terus berdiam diri menghadapi kondisi tersebut.
“Bergerak cepat, transparan, dan serius, itu yang dituntut rakyat hari ini,” kata warga lainnya.
Warga juga mengingatkan agar semangat gotong royong tidak dijadikan alasan untuk menutupi lemahnya tanggung jawab negara dalam menangani bencana dan membantu masyarakat terdampak.
“Kami masyarakat jangan sampai melakukan unjuk rasa. Jangan tunggu kemarahan ini meledak. Selesaikan sekarang. Jangan sampai setelah banjir surut, tanggung jawab juga ikut hanyut,” tutur masyarakat Dewantara.
(Junaidi)












